Menu
Perbankan
    Finansial
      Asuransi
        Multifinance
          Fintech
            Video
              Indeks
                About Us
                  Social Media

                  OJK : Insurtech jadi Faktor Pendorong Transformasi Industri Asuransi

                  OJK : Insurtech jadi Faktor Pendorong Transformasi Industri Asuransi Kredit Foto: PasarPolis
                  WE Finance, Jakarta -

                  Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Ogi Prastomiyono meyakini bahwa insurance technology atau insurtech akan menjadi faktor pendorong bagi transformasi industri asuransi. 

                  "Dengan memanfaatkan teknologi, insurtech dapat menghadirkan solusi dari risiko finansial yang inovatif, dan pembangunan masa depan yang berkelanjutan," ujar Ogi dalam International Insurance Seminar (IIS) 2023 di Jakarta, Kamis (9/3).

                  Namun demikian, Ogi mengatakan terdapat beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam ekosistem insurtech. Di antaranya terkait bagaimana mencapai keseimbangan yang tepat antara ke duanya (asuransi dan teknologi), dan juga mengoptimalkan pemanfaatan IT dengan tujuan untuk melindungi kepentingan nasabah.

                  "Hal itu juga yang mendasari kebijakan OJK untuk mengatur distribusi produk asuransi secara digital, terutama untuk menghindari arbitrase regulasi antara pemain insurtech dengan perantara asuransi berlisensi," jelasnya.

                  Baca Juga: Ini Strategi BRI Insurance Untuk Tingkat Tata Kelola Perusahaan

                  Dengan adanya regulasi tersebut, para pelaku insurtech juga harus mendapatkan lisensi dari OJK dan memiliki kewajiban untuk memenuhi persyaratan peraturan. Peraturannya meliputi tingkat minimum ekuitas, jenis produk asuransi yang sesuai dengan saluran distribusi digital, dan penerapan pengelolaan risiko IT.

                  Selain persyaratan itu, OJK juga menekankan pada pentingnya penerapan prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) dalam perusahaan asuransi.

                  "Dalam hal ini, operasi bisnis utama dalam perusahaan asuransi, seperti manajemen data, desain produk, dan cadangan teknis, harus didukung oleh fungsi aktuaria internal yang mumpuni, sebagaimana telah diatur dalam undang-undang perasuransian dan peraturan OJK," pungkasnya.

                  Baca Juga: OJK Kaji Batas Ekuitas Asuransi untuk Redam Dampak Pelemahan Ekonomi

                  Penulis: Alfi Salima Puteri
                  Editor: Ferrika Lukmana Sari

                  Bagikan Artikel: