Menu
Perbankan
Finansial
Asuransi
Multifinance
Fintech
Video
Indeks
About Us
Social Media

AAUI: Lembaga Penjaminan Polis Beri Kepastian ke Nasabah dan Tekan Risiko Gagal Bayar

AAUI: Lembaga Penjaminan Polis Beri Kepastian ke Nasabah dan Tekan Risiko Gagal Bayar Kredit Foto: Shutterstock
WE Finance, Jakarta -

Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Hastanto Sri Margi Widodo menilai adanya Lembaga Penjamin Polis (LPP) dapat memberikan kepastian manfaat, mengurangi risiko gagal bayar, dan meningkatkan kredibilitas industri asuransi nasional.  

Apalagi ditambah dengan penerapan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 74  yang mulai efektif pada tanggal 1 Januari 2025 mendatang.

"Jadi nanti dengan adanya PSAK 74 dan lembaga penjamin polis, maka tingkat keamanan industri asuransi dan perbankan akan berada di satu level," ujar Widodo saat ditemui usai acara AAUI International Insurance Seminar di Jakarta, Kamis (9/3).

Lebih lanjut, dia menjelaskan, lembaga penjamin polis memiliki tugas untuk menjamin polis nasabah apabila perusahaan asuransi mengalami Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) atau likuidasi. Widodo juga menyebut, hal ini akan mudah dilakukan bila industri asuransi sudah menganut contractual service margin (sistem seperti perbankan). 

"Kalau sekarang kan kita lihat ada perusahaan risk based capital (RBC) besar, tahu-tahu gagal bayar. Ke depannya Insya Allah sudah nggak ada lagi. Karena memang secara bisnis model, pengakuan pendapatan, semuanya sudah cukup sekali," jelasnya.

Baca Juga: Penerapan PSAK 74 Akan Dorong Industri Asuransi Makin Sehat

Dia menambahkan, setiap premi yang dibayarkan nasabah sudah dicadangkan oleh masing-masing perusahaan asuransi untuk pembayaran klaim, dan mengantisipasi hal-hal buruk yang bisa saja terjadi kapan pun. 

"Premi yang dibayar sudah dipisahkan untuk bayar klaim, bayar biaya, meng-cover pemburukan-pemburukan yang terjadi. Yang terutama (premi) tidak akan diakui sebagai pendapatan. Jadi ini seperti menggaransikan perusahaan asuransi kalau dia bangkrut, kewajibannya tetap akan dibayar. Sama seperti LPS (lembaga penjamin simpanan) lah, kalau banknya sakit," ucap Widodo.

Meski demikian, Widodo mengungkapkan terdapat tantangan tersendiri bagi industri asuransi untuk dapat bertahan di tengah keadaan ekonomi global yang tidak menentu.

"Tantangan di tengah keadaan yang sekarang, kita harus mentransformasikan diri kita untuk masuk ke level lanjutan," pungkasnya.

Baca Juga: Terapkan PSAK 74, OJK Perkuat Kredibilitas Industri Asuransi di Tanah Air

Penulis: Alfi Salima Puteri
Editor: Ferrika Lukmana Sari

Tag Terkait:

Bagikan Artikel: