Menu
Perbankan
Finansial
Bursa
Asuransi
Multifinance
Dana Pensiun
Perencanaan Keuangan
Video
Indeks
About Us
Social Media

Perbankan Diminta Alokasikan Capex Lebih Besar Untuk Tingkatkan Keamanan Digital

Perbankan Diminta Alokasikan Capex Lebih Besar Untuk Tingkatkan Keamanan Digital Kredit Foto: Ist
WE Finance, Jakarta -

Serangan siber pada platform dan mobile banking kian marak. Perbankan dinilai perlu waspada dan meninjau sistem keamanan mereka demi melindungi data serta transaksi nasabah. 

Senior Faculty LPPI Amin Nurdin menilai, maraknya serangan siber yang didukung dengan teknologi canggih harus diantipasi bank. Salah satunya dengan menambah belanja modal (capex) pengembangan teknologi informasi (TI) demi keamanan data nasabah.

"Kalo menurut saya perlu (tambah capex), karena masalahnya ada di social enginering dan keamanan siber. Maka perlu untuk menambah fitur keamanan data dengan melakukan isolasi data tersebut supaya aman," ujarnya kepada WE Finance pada Rabu (28/9). 

Saat ini, kata Amin, perbankan sudah mulai harus menggunakan teknologi biomerik untuk menangkis serangan siber. Menurutnya, teknologi tersebut merupakan fitur keamanan terdepan saat ini.

Namun, biaya untuk membeli fitur kemanan bometrik cukup besar karena alat yang digunakan berstandar internasional. Kemudian bandwith yang digunakan juga harus mendukung agar koneksinya kuat dan harganya pun tidak murah.

Biometrik merupakan salah satu cara perlindungan data nasabah dengan mencocokkan identitas seseorang dengan ciri fisik dan biologis orang tersebut. Salah satu ciri fisik yang dipakai adalah dengan sidik jari.

Dengan fitur biometrik, nasabah tidak perlu lagi mengingat kata kuncinya. Selain itu nasabah tidak perlu khawatir datanya disalahgunakan karena bank tidak akan menyimpan data terkait informasi biometrik nasabah.

Selain itu, jika nasabah punya masalah dengan internet banking dan mobile bankingnya, tidak harus hubungi customer service. Cukup adanya fitur block dan unblock itu bisa membantu agar tidak digunakan hal yang tidak baik.

"Saya tidak tau apakah hal ini wajib tapi beberapa bank besar sudah menggunakan fitur ini," katanya.

Menurut Studi terbaru dari Check Point Software Technologies, serangan siber pada industri keuangan dan perbankan merupakan yang kedua terbanyak di Indonesia. Jumlah tersebut meningkat dari sebelumnya yang menempati posisi ketiga. 

Adapun rata-rata, lembaga-lembaga keuangan di Indonesia, diserang sebanyak 2.730 kali per minggu dalam 6 bulan terakhir. Sebanyak 252% lebih banyak dari rata-rata global yang mengalami 1.083 serangan siber. 

Secara global, sektor keuangan dan perbankan menempati urutan keenam dalam industri yang paling banyak mengalami serangan siber. 

Baca Juga: OJK Resmi Cabut Izin Usaha Gadai Mandiri Agung

Penulis: Achmad Ghifari Firdaus
Editor: Ferrika Lukmana Sari

Tag Terkait:

Advertisement

Bagikan Artikel: